Hubungan Frekuensi Pemberian ASI Dengan Kejadian Ikterus
Pada Bayi Baru Lahir
Disusun oleh:
Linda Kusumawati (C1AA18061)
S1 Keperawatan 1/ A
Haloooooo
ternyata ada hubungannya loh frekuensi pemberian
asi dengan kejadian ikterus pada bayi baru lahir
Kejadian ikterus pada bayi baru lahir masih tinggi di
dunia termasuk di Indonesia, dikarenakan disebabkan beberapa faktor yaitu:
faktor. Menurut adanya peningkatan kadar bilirubin pada ikterus dapat
disebabkan peningkatan pemecahan sel darah merah atau heme, fungsi hepar yang
belum sempurna, peningkatan sirkulasi enterohepatik pada bilirubin, dan
intake nutrisi yang tidak adekuat.
Apa ikterus itu? Ikterus adalah warna kuning yang
tampak pada kulit dan mukosa karena peningkatan bilirubin. Ikterus biasanya
mulai tampak pada kadar bilirubin serum
5 mg/dL. Ikterus biasanya fisiologis, namun pada sebagian kasus dapat
menyebabkan masalah seperti yang paling ditakuti yaitu ensefalopati bilirubin
atau yang lebih dikenal dengan kern ikterus (Sastroasmoro, 2007). Dan Ikterus
Neonatorum merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada bayi baru
lahir yaitu suatu kondisi kadar bilirubin > 10 mg%. Ikterus adalah
diskolorisasi kuning pada kulit atau organ lain akibat penumpukan bilirubin.
Banyak bayi baru lahir, terutama bayi kecil (bayi dengan berat lahir < 2500
gram atau usia gestasi < 37 minggu) mengalami ikterus pada minggu pertama
kehidupannya. Data epidemiologi menunjukkan bahwa lebih dari 50% bayi baru
lahir menderita ikterus yang dapat dideteksi secara klinis dalam minggu pertama
kehidupannya (Boback, 2006). Bayi yang mengalami ikterus terjadi karena ibu
kurang memberikan ASI sesuai dengan kebutuhan dan frekuensi kurang yaitu <8
kali/hari.
Menurut Sukadi (2008) mengatakan bahwa penyebab
hiperbillirubin saat ini masih merupakan faktor predisposisi. Faktor
hiperbilirubin yang sering ditemukan antara lain dari faktor maternal seperti
komplikasi kehamilan (inkompatibilitas golongan darah ABO dan Rh), pemberian
air susu ibu (ASI), dan jenis persalinan.
Seberapa penting sih pemberian ASI? Prasetyono (2012)
mengatakan bahwa ASI merupakan makanan alami pertama dan utama selama tahun
pertama bayi dan menjadi makanan penting selama tahun kedua. Sebagian besar
bayi yang baru lahir akan menyusu ASI sebanyak 8-12 jam sehari atau setiap 2-3
jam sekali dengan lama 5-7 menit, karena umumnya perut bayi akan kosong kembali
dalam waktu tersebut. Faktor pertumbuhan
dan nutrisi yang terdapat dalam ASI sangat menentukan proses pertumbuhan dan
perkembangan bayi. Oleh karena itu sangat diperlukan perhatian dalam frekuensi
pemberian ASI, bayi yang sehat akan menyusu 8 hingga 12 kali per hari (Arif
2009).
Faktor
pertumbuhan dan nutrisi yang terdapat dalam ASI sangat menentukan proses
pertumbuhan dan perkembangan bayi. Oleh karena itu sangat diperlukan perhatian
dalam frekuensi pemberian ASI, bayi yang sehat akan menyusu 8 hingga 12 kali
per hari (Arif 2009). salah satu manfaat pemberian ASI bagi bayi adalah
menjadikan bayi yang diberi ASI lebih mampu menghadapi efek penyakit kuning (ikterus).
Jumlah bilirubin dalam darah bayi banyak berkurang seiring diberikannya
kolostrum yang dapat mengatasi kekuningan, asalkan bayi tersebut disusui
sesering mungkin dan tidak diberi pengganti ASI (Sunar 2009).
Yang, et al, (2013) mengatakan bahwa ASI memberikan
manfaat yang besar bagi bayi baru lahir. Namun bila pemberian tidak adekuat,
maka hal itu dapat menyebabkan penurunan berat badan bayi dan berhubungan
dengan kejadian ikterus. Sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Tazami, et al, (2013) mengenai gambaran
faktor resiko ikterus neonatorum didapatkan bahwa faktor maternal yakni frekuensi pemberian ASI
yang kurang 8 kali sehari meningkatkan resiko terjadinya ikterus neonatorum.
ASI
itu terdiri dari cairan Foremilk
dan Hindmilk. Foremilk
(ASI depan) adalah cairan yang pertama kali keluar dari payudara, warnanya agak
bening dan encer. Kandungan dari Foremilk
itu adalah protein dan rendah lemak, Sedangkan Hindmilk (ASI
belakang) adalah ASI yang kaya akan lemak, warnanya lebih putih dan lebih
kental. Preer dan Philipp (2011),
menyebutkan bahwa foremilk lebih cair (tinggi kandungan air) dan warnanya
kehijauan atau kebiruan, mengandung karbohidrat, protein dan vitamin, sehingga akan memudahkan pengeluaran
bilirubin melalui feses. Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Cadwell
(2007), bilirubin ini akan dengan mudah berikatan dengan asam glukoronat
membentuk bilirubin glukorosida atau hepatobilirubin. Dari hati bilirubin ini
masuk kesaluran empedu dan dieksresikan ke usus. Di dalam usus, flora usus akan
mengubahnya menjadi urobilirubin untuk kemudian di buang keluar dari tubuh
melalui urin dan feses. Bilirubin direk bersifat larut dalam air.perawatan
antenatal yang tidak memadai, ibu menderita ekslampsia, diabetes mellitus,
pertolongan persalinan yang tidak higiene, partus lama, partus dengan tindakan,
kelahiran kurang bulan, BBLR, cacat bawaan, dan adanya trauma lahir asfiksia
neonatus, tindakan invansif pada neonatus. Perlu adanya upaya pencegahan yang
adekuat seperti pemeriksaan kesehatan kehamilan secara berkala kepetugas
kesehatan dan perhatian yang cukup mengingat erat hubungannya dengan komplikasi yang terjadi akibat
infeksi.
Apa saja penyebab ikterus? Kejadian
ikterus dapat disebabkan karena asupan oksigen pada organorgan tubuh neonates
sehingga fungsi kerja organ tidak maksimal, glikogen yang dihasilkan tubuh
dalam hati berkurang yang menyebabkan terjadinya ikterus dalam jangka panjang
dan kematian dalam jangka pendek. Pada neonatus yang mengalami asfiksia,
ikterus dapat dicegah dengan cara memantau kehamilan guna mencegah terjadinya
gawat janin atau asfiksia pada janin dan penanganan resusitasi pada neonatus
yang mengalami asfiksia secara cepat dan tapat, sehingga angka kematian
neonatus dapat berkurang. Terjadinya kekurangan oksigen pada janin
mengakibatkan asupan oksigen ke organ dan jaringan berkurang sehingga neonatus
dapat mengalami ikterus neonatorum. Hasil ini juga menunjukkan bahwa bayi yang
memiliki riwayat asfiksia lebih cenderung mengalami ikterus neonatorum, dimana
pada masa neonatus ini fungsi hepar belum berfungsi dengan optimal sehingga
proses glukoronidasi bilirubin tidak terjadi secara maksimal atau jika terdapat
gangguan dalam fungsi hepar akibat hipoksia, asidosis atau kekurangan glukosa
sehingga dapat menyebabkan kadar bilirubin indirek dalam darah meninggi.
Menurut Yang et al, (2013), penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri
sendiri maupun disebabkan oleh beberapa faktor. Menurut adanya peningkatan
kadar bilirubin pada ikterus dapat disebabkan peningkatan pemecahan sel darah
merah atau heme, fungsi hepar yang belum sempurna, peningkatan sirkulasi
enterohepatik pada bilirubin, dan intake
nutrisi yang tidak adekuat.
Cadwell (2007) juga menyebutkan terdapat beberapa
faktor yang berperan dalam menentukan kisaran frekuensi pemberian ASI untuk
bayi yang sedang menyusu. Ibu memiliki kapasitas jumlah penyimpanan ASI yang
berbeda dalam payudara mereka. Kapasitas penyimpanan ASI ini adalah jumlah ASI
yang dapat terakumulasi sebelum memberikan sel-sel suatu pesan untuk mengurangi
jumlah ASI. Seorang ibu dapat memiliki kapasitas penyimpanan yang memungkinkan
payudara menyimpan ASI lebih lama atau lebih singkat bahkan lebih banyak atau lebih sedikit
dibandingkan dengan ibu yang lain.
Sukadi
(2008) mengatakan bahwa penyebab hiperbillirubin saat ini masih merupakan
faktor predisposisi. Faktor hiperbilirubin yang sering ditemukan antara lain
dari faktor maternal seperti komplikasi kehamilan (inkompatibilitas golongan
darah ABO dan Rh), pemberian air susu ibu (ASI), dan jenis persalinan. Proses
persalinan yang lama dan dengan bantuan atau tindakan bisa menyebabkan bayi
lahir asfiksia. Faktor perinatal seperti infeksi, dan trauma lahir (cephal
hematoma), dan faktor neonatus seperti prematuritas, rendahnya asupan ASI,
hipoglikemia, dan faktor genetik (Wiknjosastro, 2010). Selain faktor-faktor
yang telah disebutkan di atas, faktor risiko lain terjadinya hiperbillirubin
adalah bayi kurang bulan atau kelahiran dengan usia kehamilan <37 minggu,
bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) dan jenis persalinan (Sukadi, 2008).
DAFTAR
PUSTAKA
Yuliana, F,. Hidayah, N,. Wahyuni,
S,. (2018). Hubungan Frekuensi Pemberian
Asi Dengan Kejadian Ikterus Pada Bayi Baru Lahir Di Rsud Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2017. Vol 9: 1.
Ramdhani,.
Isma, N,U., (2015). Hubungan Frekuensi
Pemberian Asi Dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Di Wilayah Bps Vivi Umamiyanto
Suraba.
Widiawati, S. (2017). Hubungan
Sepsis Neonatorum, BBLR Dan Asfiksia Dengan Kejadian Ikterus Pada Bayi Baru Lahir. Vol 6: 1.
Herawati,
Y,. Indriati, M,. (2017). Hubungan Sepsis
Neonatorum, BBLR Dan Asfiksia Dengan Kejadian Ikterus Pada Bayi Baru Lahir . Vol 3: 1.
Ryanti, R,. Yudianti, I,. Mardiyanti,
T,. (2018). Waktu Pemberian Asi Dan Kejadian Ikterus Neonatorum. Vol 4:1.
NandaDevi,
M., Sturge, J,Racherl., Omland, E, Kevin., (2016). Mophological And Genetic Variation Of Yellow – Backed Oriole (Icterus Chrysater) Across Its Widely Disjunct Distribution In Centaral Amerika.
Azuqa.
Abeer. Watchoko. F, Jon. (2015). Bilirubin Concentrations In Jaundiced Neonates
With Conjunctival Icterus. Vol: 167.

Alhamdulillah ya mommy dapet ilmu baruπ
BalasHapusπ
BalasHapusBagus momππ»
BalasHapusSangaat bermanfaatπ€
BalasHapusBagus sekaliii mbaaa ππππ
BalasHapusππ»ππ»
BalasHapusπππ
BalasHapusWah terimakasih atas info yg sangat penting ini.
BalasHapusMakasih mom infonya
BalasHapuswah mantep nih ilmunya bundaπ
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTerimakasih sangat bermanfaat
BalasHapusIlmunyabsangat bermanfaat
BalasHapusππ
BalasHapusTrimkasih, sgt membantu
BalasHapusSangat membantuπ
BalasHapusBermanfaat sekali I like it
BalasHapusAlhamdilillah bermanfaat
BalasHapusTerimakasi infonya, sangat bermanfaat dan membantu bagi saya, terutama bagi istri saya jugaπ
BalasHapusMakasii ilmunya ya mbanya
BalasHapusGoodππ
BalasHapusSangat bermanfaat π
BalasHapus